Senin, 09 April 2018

Mia rusmia

    Anandita Pratiwi adalah gadis berusia 17tahun yang berkepribadian menarik. Tapi, untuk sebagian orang, kepribadian Tiwi dianggap aneh. Ambisius. Dingin. Walau sebenarnya dia memiliki jiwa yang peduli.
Sore ini Tiwi turun dari angkutan umum sehabis mencari buku di toko buku langganannya. Tiwi turun di depan gang rumahnya setelah memberikan beberapa lembar uang dua ribuan kepada supir angkot.

"Dari mana Wi?" Tiwi sedikit tersentak saat melihat keberadaan Zaki Mahenra-kekasihnya. Tidak lama Tiwi memasang wajah kaget. Hanya beberapa detik dan kemudian wajahnya kembali tanpa ekpresi. Tiwi merasa kedatangan Zaki yang tiba-tiba akan membuat hatinya brutal.

"Abis nyari buku, ngapain disini?" Tiwi balik bertanya.

"Tumben nyari buku sendirian? kemana Ranti?" Zaki kembali bertanya. Ranti adalah sahabat dekat Tiwi.

"Ranti lagi ada urusan." Jawab Tiwi.

"Nyari buku sampe sore gini? bohong lo ya?" Zaki mengerutkan dahi dan mengangkat  sudut bibir kanannya. Membentuk senyuman miring.

"Gue berangkat siang, wajar kalo jam segini baru balik." Tiwi mulai jengah mendapat tuduhan dari Zaki.

"Bohong banget lo." Zaki kembali berucap.

"Gue gak bohong." Jawab Tiwi membela diri. Ini bukan kali pertamanya Zaki menuduh Tiwi yang tidak-tidak. Posesif. Itulah kata yang cocok untuk menggambarkan seperti apa Zaki.

"Kalo lo beneran cari buku, lo gak mungkin jalan sendirian terus-" belum sempat Zaki menyelesaikan ucapannya, Tiwi lebih dulu bersuara.

"GUE BILANG RANTI ADA URUSAN!" jawab Tiwi penuh penekanan. Tiwi berlalu melewati Zaki yang duduk anteng di atas motornya.

"Kapan sih lo berubah Pratiwi?" Zaki mengeraskan suara, sukses membuat Tiwi berbalik.

"Bukan gue yang gak berubah, lo yang gak pernah ngerti," Tiwi kembali berjalan menjauhi Zaki yang masih tersenyum miring.

"Berenti!" Zaki turun dari motornya dan menahan tangan Tiwi.

"Tiwi, gue sayang sama lo." Zaki kembali berucap.

"Kalo lo sayang sama gue, lo ga bakal nuntut waktu gue buat selalu ada buat lo," Tiwi menghadap Zaki, matanya mulai sayu, merasa lelah dengan semua tuntuan dari Zaki.

     Tiwi melepaskan tangan Zaki yang melingkar di pergelangan tangannya. "Hidup gue ga tertuju sama lo doang Ki, gue butuh belajar, gue butuh waktu buat dapetin apa yang gue mau," Tiwi  melanjutkan ucapannya, "lo bukan orang baru dikehidupan gue, harusnya lo lebih tau".

"Gue cuma minta lo jangan terlalu ambisius gini Wi, gue ini pacar lo." Zaki balas menatap tatapan Tiwi.

"Gue inget lo pacar gue. Tapi kalo lo kaya gini terus, yang ada lo bisa ngancurin gue Ki." Tiwi memutar bola matanya jengah.

"Gue juga anak sekolah Tiwi, gue juga belajar buat dapetin nilai bagus kayak lo, tapi lo berlebihan," Zaki mencoba memberi pengertian, bahwa dia tidak bisa melihat Tiwi terlalu berambisi seperti ini.

"Kalo lo emang belajar lo harusnya bisa ngerti Ki, tapi nyatanya apa? engga kan? lo ga ngerti!" Tiwi menggeleng-gelengkan kepalanya, "karna kita beda Ki, lo berada dan gue engga. Gue perlu berusaha dan lo engga!" Tiwi merasa Zaki yang berlebihan dan tidak pernah paham,  "lo tau? Gue bukan orang yang berada, yang bisa masuk Universitas yang gue mau dengan mudah," Tiwi menatap Zaki dalam-dalam.

Zaki hanya menganga mendengar penjelasan panjang lebar dari Tiwi. Ini kali pertamanya Zaki melihat Tiwi benar-benar penuh emosi. Meskti tidak dengan suara yang lantang, ucapan Tiwi langsung dapat menonjok tepat didada Zaki. Marahnya orang dingin memang lebih menyakitkan. Pikir Zaki. Belum sempat Zaki membuka mulut, Tiwi kembali bersuara.

"Gue perlu belajar, gue perlu dapetin beasiswa itu dengan utuh Ki, gue capek gini terus," Keadaan rumah Tiwi yang berbeda membuat Tiwi benar-benar tidak ingin terlalu larut tentang masalah percintaan. Menurut Tiwi masa depan lebih penting.

Zaki rasa dia tidak salah. Meminta sedikit hak sebagai pacar. Tapi Tiwi selalu sibuk dengan buku-buku pelajaran. Menurut Zaki itu terlalu berlebihan. Belajar boleh, tapi itu bukan berarti Tiwi bisa mengabaikannya.

Tiwi memejamkan mata dan menghembuskan nafas kasar, "Kita masing-masing dulu aja Ki, lo butuh orang yang bisa fulltime sama lo," kata-kata Tiwi setidaknya sukses membuat Zaki menganga dan mengerutkan dahi membentuk huruf V sempurna, "dan itu bukan gue Ki, makasih lo udah nyoba ngertiin gue selama 1tahun ini."

Tiwi berlalu begitu saja. Mengabaikan teriakan Zaki yang terus menyebut-nyebut namanya. Tidak sadar sepanjang perdebatan tadi, satu pasang mata memperhatikan dibalik kaca kafe yang terletak di seberang jalan. Dia tidak mendengar percakapan itu, Dia hanya bisa memastikan bahwa keadaan tadi tidak baik-baik saja.

-------

     Tiwi berlalu meninggalkan Zaki yang terus berteriak. Zaki terlalu berlebihan. Pikirnya.
Matahari sudah cukup orange untuk ukuran sore ini. Tiwi tidak ingin pulang kerumah dulu. Pikirannya terlalu kalut. Tiwi ingin ke tempat yang setidaknya membuatnya merasa lebih baik untuk pulang kerumah. Tiwi masuk ke dalam kafe di seberang jalan, duduk di bagian pojok kafe sembari mengamati Zaki yang pergi dengan motornya.

"Hot cokelat," Suara berat membangunkan lamunan Tiwi. Tiwi menoreh dan mengamati seseorang yang meletakan gelas khas kafe yang diisi dengan hot cokelat.

"Boleh duduk disini?" Seseorang itu kembali berucap sembari menunjuk kursi di depan Tiwi. Tiwi hanya mengangguk mengiyakan.

"Hot cokelat bisa bikin tenang," Tiwi semakin kebingungan melihat tingkah aneh cowok di depannya ini. Tiwi bisa memperkirakan lelaki ini berusia tidak jauh darinya. Mungkin mahasiswa.

"Maaf ini bukan pesanan saya," Tiwi menggeser gelas hot cokelat ke arah cowok didepannya.

Cowok itu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan menggeser lagi gelas itu ke arah Tiwi. Tiwi semakin kebingungan, "Tapi itu pesanan saya, buat kamu."

"Kakak siapa ya?" Tiwi bertanya dengan suara pelan.

"Saya orang asing, kita gak perlu kenalan," cowok itu menyeruput gelas yang berisi matcha.

Tiwi kembali bertanya, "Maksud kakak?"

"Kamu punya masalah ya? Mau cerita?" Cowok itu menebak.

     Tiwi sedikit kebingungan saat cowok itu menebak, merasa tebakan lelaki itu benar, "Mmmm, gak terlalu banyak cuma masalah kecil," Tiwi mengembungkan pipi.

"Aku tau, kamu butuh teman buat cerita," cowok itu menyeruput lagi matcha miliknya dan melanjutkan ucapannya, "Kadang, bercerita dengan orang asing itu mengasyikan," Cowok itu tersenyum manis ke arah Tiwi.
Tiwi hanya melongo mendengar menuturan cowo itu.

"Gimana kalo kita saling cerita? Ngeluarin unek-unek masing-masing tapi gak perlu tanya nama. Aku bakal ajak kamu ke suatu tempat, kalo kamu gak suka sama tempatnya, kita gak perlu ketemu lagi," Cowok itu menyodorkan tangannya ke arah Tiwi sebagai tanda deal.

Tiwi sedikit berpikir, mengapa ada orang seaneh ini di dunia? Memberikan hot cokelat, menebak, dan menawarkan diri untuk mendengarkan ceritanya di saat pertama kali bertemu.
     
          Entah mendapatkan dorongan darimana, Tiwi menyalami uluran tangan cowo itu tanda deal. Beberapa menit kemudian keduanya keluar dari kaffe.
Cowok itu membawa Tiwi kesebuah tempat dengan motor besarnya. Tiwi merasa aneh pada dirinya sendiri. Dia tidak pernah merasa seaman ini, terlebih cowok yang sekarang membawanya adalah cowok yang belum dia kenal. Ah Tiwi tidak berpikir negative tentang cowok ini, toh kalau tempatnya tidak Tiwi sukai mereka tidak akan bertemu lagi. Pikir Tiwi.

         Setelah belasan menit berada di jalanan Tiwi dan cowok aneh itu sampai disebuah bukit yang ditumbuhi ilalang liar. Bunga-bunga dandelionpun turut mengindahkan pemandangan bukit ini.

"Ini tempatnya," Cowok itu membuka helmnya dan memarkirkan motor besarnya di bawah pohon.
Tiwi turun dari motor, dan mengedarkan pandangan.
Semilir angin yang menerpa-nerpa rambut Tiwi membuat cowok itu berdecak kagum melihat cantiknya Tiwi. Tiwi tidak banyak bicara, dia masih berdecak kagum dengan tempat ini. Indah. Lirih Tiwi.

"Kamu suka," Cowok itu berdiri dibelakang Tiwi, "kita bakal ketemu lagi, " Suara tawa mengiringi ucapannya.

Tiwi hanya tersenyum dan menatap cowok yang sedang mengeluarkan kamera dari dalam tas yang ia pakai.
Memotret ke segala arah.

"Kamu photographer ya?" Tiwi menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.

"Iya." Ucap cowok itu tanpa mengalihkan pandangan. "kita mulai cerita yaa." Cowok itu menuntun Tiwi untuk duduk disekitaran ilalang. Menikmati senja yang mulai menjingga.

"Jadi gimana? kamu punya masalah apa?" Cowok itu meletakan kamera didepannya.

Tiwi menatap lurus, merasakan sesak yang ada di dadanya karena kejadian beberapa jam yang lalu.

"Cuma kesalahpahaman biasa ka," Tiwi menghembuskan nafas lembut. "aku pengen fokus buat belajar, tapi Zaki gak pernah ngerti. Dia bilang aku gak mentingin dia sebagai pacar. Dan aku milih buat ninggalin dia." Tiwi terseyum miring.

"Kamu hebat," Cowok itu menyahuti.

"Hebat?" Ulang Tiwi.

"Iya kamu hebat. disaat anak-anak lain berlarut-larut dalam percintaan, kamu malah acuh," Cowok itu menjelaskan panjang lebar. Merasa kagum dengan prinsip gadis disampingnya ini.

"Entahlah kak, mungkin karena aku gak pernah ngerasain jatuh cinta yang sejatuh-jatuhnya. Selalu berawal dari kasihan dan berakhir gitu aja." Tiwi hanya tersenyum mengingat kejadian bodoh saat dirinya terpaksa menerima cinta Zaki satu tahun lalu. Dengan alasan kasihan. Itu semata-mata hanya untuk menghargai. Tapi meskipun begitu, Tiwi tidak pernah sama sekali berniat untuk mengacuhkan Zaki. Dia memang selalu bersikap biasa saja kepada semua orang. Kecuali pada orang tuanya dan orang aneh ini.

"Ha ha ha, lucu kamu." Tawa cowok itu membuat Tiwi kebingungan. Cowok itu benar-benar aneh. Menertawakan apa?

"Apanya yang lucu kak?" Tiwi bertanya.

"Kamu lucu," cowok itu masih tertawa.

Tiwi hanya merilik sebentar, merasa tertular dengan tawa cowok disampingnya. Tiwi ikut tertawa melambungkan beban yang dia tanggung sendiri.

"Tau filosofi ilalang?" Cowok itu meredakan tawanya.

"Enggak, emang apa?" Sahut Tiwi.

"Aku gak tau, makanya nanya kamu, ha ha ha," cowok itu kembali tertawa.

"Ih dasar, receh banget," Tiwi memanyunkan bibirnya ke depan tanda tak suka lalu menyenggol lengan cowok disampingnya dan tertawa.

"Kalo seandainya nanti kamu nemuin hati yang bisa bikin kamu ngerasa jatuh cinta sejatuh-jatuhnya, kamu bakal berani ninggalin buku-buku itu?" Cowok itu kembali berucap.

"Gak ada yang bakal bisa bikin aku jatuh cinta melebihi cinta aku ke buku,"Jawab Tiwi sembari diikuti tawa yang melambung.

"Kalo ternyata ada?" Cowok itu menatap Tiwi dalam.
Aneh. Cowok ini merasa gadis di sampingnya akan membuat keributan dalam batinnya. Rasa yang menghampiri batinnya saat melihat kekacauan yang terlihat jelas diwajah gadis ini tadi siang, sulit untuk dijelaskan. Rasanya ingin membuat gadis ini tenang.

    Gadis itu tidak cepat menjawab. Tatapannya lurus menatap dandelion yang sedang bergerak-gerak akibat angin. Cowok itu menatap sebagian wajah Tiwi dengan tajam. Melihat setiap inci wajah cantik Tiwi. Entah perasaan apa yang sedang memburu dihati cowok itu. Rasa nyaman lebih mendominasi.

         "Sejak kapan suka senja?" Tiwi mengalihkan ucapan cowok itu. Merasa aneh membahas perihal perasaan. Karena diapun tidak pernah memikirkan akan ada seseorang yang membuatnya jatuh cinta melebihi kecintaannya pada buku.

"Sejak-" Cowok itu sedikit berpikir,"Lama."

"Ih labil, gak yakin gitu jawabnya," Tiwi tertawa.

"Beneran. Yang pasti udah lama banget," Cowok itu ikut tertawa dan menunjuk pohon yang berdiri di sampingnya, " kira-kira, lamanya hampir seumuranlah sama pohon itu," Tawa keduanya kembali meledak begitu saja. Tidak terlihat seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal.

"Kamu mu tau gak? rahasia aku?" Cowok itu menghentikan tawanya.

"Apa?" Sahut Tiwi.

"Aku mulai jatuh cinta sama gadis yang bahkan aku gak tau nama dia siapa," cowok itu meluruskan pandangan. Mengambil kamera yang di pegangnya, membuka satu file foto yang ia ambil saat pertama kali turun dari motornya. Memperlihatkan gadis di dalam foto dihadapan Tiwi. Lalu hening.

       Senja mulai menghilang bersama malam.  Setelah mengucapkan "see you" kedua orang asing itu berpisah di tempat pertama kali mereka bertemu. Kedua orang itu sama-sama berharap dapat disatukan kembali.

-------

         Setelah beberapa hari, Tiwi masih saja tertawa saat mengingat keanehan yang terjadi dengan cowok itu. Betapa lupanya Tiwi dengan bebannya selama ini saat bersama cowok itu. Tiwi menghela nafas dan menuruni anak tangga menuju ke florist yang ada di lantai bawah rumahnya. Rumah Tiwi memang menyatu dengan florist milik orang tuanya.

"Bi imah, udah sore. Bi imah pulang aja, biar aku yang jaga," Tiwi tersenyum dan meletakan buku yang sengaja ia bawa dari kamarnya untuk menemani Tiwi di ruangan penuh bunga ini.

"Iyaa neng, bibi pulang dulu ya," Bi Imah menjawab dan bersiap untuk pulang.

"Salamin yaa buat anaknya Bi Imah, Nanda," Tiwi melambaikan tangan pada Bi Imah yang sudah menjauh dari bangunan florist ini.

Baru saja Tiwi membuka beberapa halaman buku, suara Bu Santi-mamah Tiwi mengagetkannya.

"Tiwi," panggil Mamah sembari mendekati anak sulungnya ini. Tiwi adalah anak sulung dari 3 bersaudara.

"Eh kenapa Mah?" Jawab Tiwi menutup bukunya.

"Mamah nemuin ini di depan," Bu Santi menyodorkan sebuah kotak.

Tiwi mengambil kotak yang di sodokan Mamahnya, "Tiwi ga pesen baju online Mah."

"Terus siapa?" Mamahnya kembali bertanya, "disitu emang ga ada tulisan buat kamu, tapi Mamah kira itu dari temen kamu. Kurirnya juga cuma bilang buat anak gadis di rumah ini."

Tiwi sedikit berpikir tapi tak lama ia kembali berucap, "Oh iya kali Mah, makasi ya Mah."

"Tiwi, kamu bentar lagi mau ujian ya?" Mamahnya kembali membuka suara.

Tiwi menatap Mamahnya, "iya mah, makanya aku belajar."

"Mau ikutan les ga? pasti temen-temen kamu udah pada ikutan les kan?" Mamah Tiwi mengelus-elus puncak kepala Tiwi.

"Emang Mamah ada uang?" Tiwi balik bertanya.

Mamah Tiwi sedikit berpikir dan tersenyum, "Ada dong."

"Gausah deh Mah, Tiwi masih bisa belajar sendiri, temen-temen Tiwi juga pada pinter. Tiwi bisa minta ajarin ke mereka," Tiwi menjawab tanpa ragu. Tiwi sangat paham betul bahwa Mamahnya itu tidak memiliki uang untuk les. Mamah Tiwi hanya merasa bertanggung jawab atas anak sulungnya ini.

"Yaudah, Mamah ke dapur dulu, nanti kita makan sama-sama," Bu Santi tersenyum dan berlalu.

"Iya Mah, nanti Tiwi nyusul," Sahut Tiwi. Tiwi sedikit larut dalam percakapannya barusan tapi ia segera menepis kesedihannya. Beralih ke kotak yang sedari tadi ia pegang.

         Sebenarnya Tiwi sedikit kebingungan melihat kotak yang dipegangnya. Menebak-nebak apa isi kotak ini. Siapa yang mengirimnya, dan untuk tujuan apa?

"Ulang tahun gue kan masih lama," lirihnya sambil membuka bungkusan dari kotak itu.

Tiwi mengambil beberapa lembar foto didalam kotak. Foto dirinya saat berada di bukit dengan cowok aneh itu. Bunga dandelion kering menemani lembaran foto.
Tiwi sedikit tersenyum. Pasti cowok aneh itu. Pikirnya.
Tiwi membalik satu persatu lembaran foto dan membacanya tulisan yang ditulis dengan tinta hitam.

Lembar pertama bertuliskan, "BOLEHKAH."
Lembar kedua, "KU PANGGIL."
Lembar ketiga,"ENGKAU."
Lembar keempat, "SENJA?"

"BOLEHKAH KU PANGGIL ENGKAU SENJA?" Tiwi mengulangi. Senyumnya mengembang.

"Boleh," batin Tiwi.

     Tiwi dan cowok aneh itu memang belum sempat saling memberi tahu nama. Karena memang sudah kesepakatan diawal bertemu. Cowok itu bilang ketika mereka bertemu untuk kedua kalinya, Tiwi akan mengetahui namanya. Entah kapan, dan dimana.

"Tau dari mana alamat rumah gue?" Tanya Tiwi pada dirinya sendiri, "kapan dia ngambil foto gue? hahahaha dasar cowok aneh," Tiwi tertawa mengingat semua keanehan yang dibuat oleh cowok itu.

*******
        

      Beberapa hari setelahnya, Tiwi semakin sering mendapat kiriman. Entah hanya sebatang coklat, atau setangkai bunga mawar putih. Tidak pernah lupa cowok itu menyelipkan selembar kertas berisikan tulisan-tulisan tangannya.  Sering sekali. Tiwi bahkan sudah kehilangan hitungannya sendiri. Tiwi hanya senyum-senyum sendiri melihat keanehan cowok itu. Tiwi ingin sekali bertemu dengan cowok itu lagi. Tapi Tiwi bingung bagaimana cara membalas semua surat dari cowok itu. Tiwi benar-benar tidak tahu siapa nama cowok itu. Hati Tiwi sedikit bergetar. Entah kenapa dia merasa cowok ini yang akan membuatnya jatuh cinta.

     Sore ini, cuaca sedikit nakal. Gerimis kecil yang membasahi aspal. Sabtu yang sedikit aneh. Pikir Tiwi.
Pagi tadi, Tiwi mendapat kiriman lagi. Sedikit berbeda dengan kiriman yang biasanya Tiwi terima. Masih spesial bahkan lebih spesial. Bunga mawar putih, boneka kecil pink dan selembar kertas.

"Jadilah seperti ribuan ilalang yang tumbuh di atas bukit. Sekencang apapun terpaan angin, selama apapun angin itu menerpa, dia hanya akan meliuk-liuk dan kembali berdiri saat angin berhenti,"

Katanya gak tau filosofi ilalang," lirih Tiwi dan tersenyum miring. Tiwi merasa lebih baik saat membaca tulisan itu. Seperti ada dorongan kuat untuk lebih tegar menjalani kehidupannya yang berbeda dengan orang lain. Tiwi selalu berpikir, hidup itu seperti jalan. Kadang dia mulus, beriku, berlubang, dan penuh paku. Tapi Tiwi seperti tidak punya alasan untuk kembali, selain terus melanjutkan hidup tanpa mengeluh. Dan entah kenapa, adanya cowok aneh ini semakin membuat Tiwi benar2 lupa dengan kesedihannya.

      Motivasi-motivasi yang cowok itu kirim lewat tulisan, berhasil membuat Tiwi merasa dihargai walau secara tidak langsung. Berbeda sekali saat masih bersama Zaki yang selalu menuntut waktu dan cemburu pada buku-buku milik Tiwi. Alasan itulah yang membuatnya jengah dan lelah atas hubungannya dengan Zaki.

    Sore yang sedikit basah itu, membawa Tiwi kedalam kafe. Tempat pertama kali Tiwi dan cowok itu bertemu. Dia masih memegangi amplop pink yang dia temukan di kotak surat tadi siang. Di bagian depan amplop itu tertulis bahwa cowok itu meminta Tiwi datang ke kafe. Dan seperti perjanjian di awal, cowok itu akan memberi tahu namanya saat pertemuan yang kedua kalinya.

"Terima kasih ya mbak," Tiwi tersenyum pada pelayan kafe yang meletakan hot cokelat yang sempat dia pesan sebelum dia duduk di kursi kafe. Entah sejak kapan Tiwi menyukai minuman ini. Yang pasti, Tiwi tertarik pada hot cokelat setelah cowok itu memberinya segelas hot cokelat sore itu. Dan itu sedikit membuatnya merasa lebih tenang.

"Ini isinya apa ya," Tiwi membolak-balikan amplop di tangannya.

"Emang kenapa ya kalo gue buka sekarang?" Tiwi kembali bertanya pada dirinya sendiri. Pasalnya Tiwi hanya boleh membuka amplop itu saat cowok itu datang.

    Tiwi sedikit bertanya pada dirinya sendiri, mengapa dia sampai rela datang ke kafe ini hanya untuk memenuhi rasa penasarannya terhadap cowok itu. Tapi dia tidak menepisnya. Membiarkannya dengan rasa sedikit bahagia.

   Tiwi teringat saat cowok itu memperlihatkan foto di dalam kameranya. Yaitu, foto dirinya saat membelakangi kamera. Cowok itu bilang, dia mulai jatuh cinta pada dirinya. Entahlah, Tiwi juga merasakan hal yang sama. Mungkin ini alasan kenapa Tiwi sampai mau repot-repot datang ke kafe ini.

     Tiwi mengedarkan pandangan, melihat pintu kafe yang tertutup tanpa seseorangpun yang masuk. Sudah hampir 20 menit Tiwi duduk di kafe ini. Bahkan minumannyapun sudah hampir setengah gelas, tapi cowok itu belum juga datang. Tiwi masih setia menunggu, hanya membolak-balikan amplop yang dia pegang.

   Satu jam telah berlalu, orang yang datang ke kafe ini sudah hampir belasan orang. Yang lain duduk, yang lainnya keluar. Tapi Tiwi masih tetap di posisi semula. Di kursi pojok menghadap jendela yang langsung menghadap jalanan. Gerimis masih saja berlangsung, Tiwi sudah mulai gelisah. Sabtu benar-benar mulai menyebalkan. Pikir Tiwi. Tiwi benar-benar muak. Tubuhnya mulai lelah karna sendari tadi hanya duduk.

"Kayanya gue di boongin deh," batin Tiwi.

"Bego banget sih gue? mau aja nungguin orang yang gak kenal," Tiwi sedikit mengomeli dirinya sendiri. Merasa terlalu baik percaya pada tulisan-tulisan cowok itu.

   Tiwi keluar dari kafe, memegangi amplop pink yang di pegang. Berniat membuangnya.

"Lo isinya apa sih? bikin penasaran tau gak?" Tiwi mendekatkan amplop pink tepat di depan wajahnya, "buka aja dah yaa."

    Tiwi membuka amplop itu dengan rasa sebal. Dia terlalu bodoh menunggu cowok aneh itu. Tiwi baru saja berpikir bahwa rasa terhadap cowok itu mulai tumbuh, walau hanya dalam diam. Tapi setelah kejadian menunggu ini, Tiwi sedikit kecewa.

     Suara decitan ban dan aspal mengagetkan Tiwi. Suara jeritan dari beberapa pejalan kakipun turut membuat Tiwi melebarkan mata. Suara benturan antara dua bendapun terdengar jelas. Kejadian itu terjadi begitu cepat. Orang-orang mulai berdatangan. Pelayan kafepun ikut keluar untuk menolong. Tiwi hanya terpaku memegang erat amplop yang baru Tiwi buka setengahnya. Menyaksikan seseorang dengan motor besar tersungkur dan tertindih motornya sendiri. Mobil yang datang dari arah berlawanan itupun ringsek dibagian depan. Pengemudi keluar dan menyaksikan orang yang ia tabrak barusan.
Tiwi hanya menggigit bibir bawahnya, matanya masih melebar. Orang-orang mulai mengerubungi lelaki itu. Tiwi membuka amplopnya dengan cepat. Melihat apa isi amplop itu. Membaca kertas yang ada di dalamnya dengan begitu terburu-buru.

"Hai cantik, bolehkah ku panggil engkau senja? Haha bahkan kamu lebih indah dari senja. Tatapan mu lebih indah darinya. Hei senja, bolehkah ku sama kan engkau dengan dia? Gadis cantik yang ku perkenalkan padamu beberapa minggu lalu. Hei cantik, aku mulai mencintaimu. Aku tahu, bahwa kau juga mulai mencintaiku. With love -BILY."

  Tiwi meremas amplop ditangannya. Berlari menghampiri kerubungan orang-orang. Mencari celah untuk memastikan siapa lelaki yang di sedang orang-orang ini tolong. Tiwi hanya terpaku saat seseorang membuka helm yang di pakai sang pengemudi motor. Menutup mulut dengan tangannya. Lelaki itu terlihat tidak sadarkan diri. Wajah tampannya  bercampur dengan darah yang keluar dari pelipisnya.

"Telpon ambulance," titah seseorang pada pengemudi mobil yang menabrak.

"Bily?" Panggil Tiwi disela isakan tangisnya.

********
     2 tahun sudah berlalu. Tiwi sudah menjadi mahasiswa dengan bantuan beasiswa yang ia peroleh saat keluar dari SMA. Usahanya tidak sia-sia, bercinta dengan buku-buku membuatnya cukup puas saat ini. Florist yang di kelola oleh orang tuanyapun sudah mulai membuka cabang di berbagai daerah. Hidup Tiwi berangsur-angsur membaik.

"Tiwi, Mamah mau ngambil bunga dulu, kamu bisa jaga dulu sebentar di bawah?" Suara Mamah Tiwi setelah membuka kenop pintu kamar Tiwi.

"Boleh Mah, nanti Tiwi kebawah." Sahut Tiwi.

"Kamu gak lagi ngapa-ngapain 'kan?" Tanya Mamahnya lagi.

"Engga Mah, Tiwi cuma lagi beres-beres barang yang udah gak kepake. Laci Tiwi udah gak kuat nampungnya." Kekehan keluar dari mulut Tiwi, dengan tangan yang masih meraba-raba kedalam laci.

"Yaudah, Mamah jalan dulu yaah," Mamahnya melambaikan tangan dan menutup pintu.

   Sepeninggalan Mamahnya, Tiwi terus mengumpulkan barang-barang yang sekiranya sudah tidak terpakai. Tiwi menemukan satu kotak pink berukuran sedang. Tiwi membukanya perlahan. Lembaran foto yang sama, dandelion kering, boneka pink kecil, mawar putih kering yang sudah tak putih lagi dan beberapa kertas masih tersimpan rapih didalamnya. Membuat Tiwi mengangkat kedua alisnya bersamaan. Setelah insiden kecelakaan itu, Tiwi tak pernah lagi mendapat kiriman. Seakan lelaki bernama Bily itu benar-benar hilang. Yang Tiwi yakini sampai saat ini adalah, lelaki itu tidak mati, dia pasti akan kembali suatu saat nanti. Tiwi sempat mencari tahu kemana dia pergi, tapi Tiwi tidak pernah menemukannya. Cinta yang Tiwi pendam, masih sama seperti dulu. Masih ia jaga hanya untuk Bily.

    Tiwi tersadar dari lamunannnya, memasukan semua barang-barang yang dia rasa tidak digunakan lagi ke dalam kardus. Bukan untuk dibuang, hanya untuk ia simpan. Kotak yang tadi dia pegang adalah pengecualian. Tiwi ingin kembali membaca kertas-kertas itu.

    Tiwi duduk di meja kasir florist dan meletakan kotak yang dbawanya. Sedikit membenarkan beberapa bunga yang posisinya tidak benar.

"Masih seger aja sih kamu, padahal udah sore" Tiwi menghirup aroma bunga mawar yang di pegangnya, membenarkan posisinya yang sedikit miring.

     Pintu florist terbuka, menandakan seseorang masuk. Tiwi tidak menyadari seseorang telah berdiri beberapa langkah dibelakangnya.

"Saya mau bunganya." Suara berat membuat Tiwi membalikan badan.

"Boleh," sahut Tiwi.

Betapa terkejutnya Tiwi saat melihat seseorang yang berdiri beberapa langkah di hadapannya ini. Lelaki yang memanggilnya senja.

"Bily," lirih Tiwi.

1 komentar:

  1. F*a*n*s*B*E*T*I*N*G Game Bola Online| 5*E*E*8*0*A*F*E :)

    BalasHapus