Jumat, 06 April 2018

Zona nyaman

Siapa yang suka ? saat Zona nyaman seseorang telah di rusak, menjadi  berantakan karena pikiran yang tidak karuan!  Zona nyaman yang di bangun dengan hati yang kuat, supaya perasaannya terjaga dengan baik , terjaga dari lelaki yang sering melontarkan gombalan gombalan yang mengajaknya pacaran. Dia Soffia Zahra ,perempuan yang memiliki Zona nyaman tersebut, Sofi memilih memperbanyak teman dari pada pacar, bukanya Sofi tidak ada yang mau,hanya saja, dia lebih menjaga hatinya, supaya tidak gampang di sakiti, Sofie tau, banyak sekali efek samping yang terkandung dalam pacaran , ribet juga harus memberi kabar tiap hari, menanyakan sudah makan atau belum? atau menanyakan lagi apa? pertanyaan itu hampir tiap hari di bicarakan, oleh orang orang berpacaran, bukanya itu membosankan pikir Sofie , yah buat Sofie bahagia yang hakiki cuman ada dua, yaitu  memiliki orang tua yang baik dan sahabat yang baik, keberadaan  mereka di kehidupan Sofi memberi rasa nyaman dalam hidupnya, bukanya Sofi belum pernah pacaran, dia pernah, namun selama 1 taun ini dia lebih memilih menjaga hatinya . Dan malam ini rasa nyaman yang dia bangun selama 1 taun ini, di rusak oleh kedatangan seorang lelaki ke rumahnya.

" Saya Ali Devano Pak saya ke sini untuk meminta ijin Bapak...saya ingin menikahi Sofi. "
Lelaki yang tidak pernah di kenal Sofi, secara tiba tiba melamarnya, di hadapan Pak Ahmad Dahlan ayah sofie dan juga Ibunya Fatma Dahlan, tidak ada awan mendung apa lagi hujan, yang ada hanya bintang dan bulan, menghiasai langit malam,namun, Sofie merasa di sambar petir di malam hari, Sofi mematung, ada yang mengajak pacaranpun dia berhati hati, tapi ini mengajaknya menikah dengan orang yang sama sekali tidak Sofi kenal.

" Saya asli Bandung Pak, dan saya berkerja sebagi Guru di Mts Al Hidayah , saya cuman ingin bersilaturahmi dengan keluarga ini, terutama dengan Sofi, " jawab Ali yang kesekian kali nya saat Pak Ahmad terus melontarkan pertanyaan ,Sofi masih mematung pikiranya melayang entah ke mana  

" Hmmm...kalau begitu Bapak mengijinkanya, kalau memang itu niat baik untuk bersilaturahmi." Pak Ahmad langsung memberi ijin karena setatus Ali sebagi guru sekolah sudah pasti dia laki laki baik dan benar pikir Pak Ahmad, 

Entah perasaan haru atau seperti apa? yang di rasakan Sofi saat ayahnya mengijinkan lelaki itu bersilaturami denganya , perasaan yang terus berbisik di dalam hatinya ,entah seperti apa? bagi Sofi ini sulit di artikan , bahagia ? atau sedih ? .

" Ayah boleh saya ke kamar sebentar ?" Sofi memilih untuk menghindar dari obrolan mereka tanpa Sofi memberi jawaban 'iya' atau 'tidak' 

Setelah Ali pamit pulang ,Pak Ahmad sepertinya bahagia, ada senyuman yang di pancarkan dari orang tua Sofi, mungkin mereka senang, ada seorang lelaki yang sudah siap untuk menjaga Sofi setelah Pak Ahmad, berbeda dengan perasaan Sofi tidak ada senyuman, tidak ada rasa bahagia,yang ada perasaanya seperti di aduk aduk, rasanya petir mash menyambar dirinya, kalaupun Propesi Ali sebagi guru sudah di yakinkan bakal menjamin kehidupa Sofi menjadi lebih baik, tetap saja hatinya ingin berteriak, yang jadi permasalahnya Sofie sama sekali belum pernah, memikirkan soal pernikahan, bahkan pacaranpun dia tidak membutuhkan itu, Sofi terlalu nyaman tanpa itu semua , kedatangan Ali kerumahnya seketika meruntuhkan Zona nyamanya , pikiranya di liputi rasa bingbang, antara menerima atau menolak.
Tidak mampu lagi untuk menahan rasa gemuruh di hatinya, ahinya Sofie memilih menangis,  karena tidak ada jawaban dan respon dari perasaanya.

Ibu Fatma yang mendengar isak tangis anaknya, menghampiri Sofie ke kamar ,
" Ibu tau kamu belum pernah memikirkan hal ini ,tapi Ibu yakin dia memang jodohmu, cobalah belajar menerima kehadiranya , Ali pasti bisa membahagiakan kamu di masa depan," tanganya mengusap rambut sofi dengan sayang " Sofie sudah bahagia seperti ini Bu, " jawab Sofi lirih

 " Apa kamu akan terus terusan seperti ini ? bermain dengan teman teman mu tanpa tau waktu pulang , sudah saatnya kamu berubah menjadi Wanita dewasa....coba Ibu tanya berapa umur mu sekrang hm ? " 

" 20 taun," jawab Sofi sesekali dia mengusap air matanya yang sedari tadi tidak mau berhenti,
" Ibu mengurusmu selama 20 taun....dan sekarang! waktunya kamu harus hidup mandiri tanpa Ibu , melakukan semua kewajiban sebagi wanita, yaitu di awali dengan Pernikahan , jangan berpikir hidup hanya  bermain saja, " ini seolah tamparan keras untuk Sofi yang hanya berpikir soal kenyamanan , Sofi tidak pernah berpikir tentang hal ini, memang bermain bersama teman temanya, sudah hal yang biasa, dan itu terlalu sering Sofi lakukan, tanpa Sofi berpikir bahwa waktu semakin berjalan ." Baiklah kalau memang Ali berniat menikahi ku tidak ada salahnya aku menerimanya , kalaupun sekarang ... Perasaan ku masih bingbang ..Ibu. "

" Ibu akan mendoakan yang terbaik untuk mu...Sebelum Ali pulang, tadi dia sempat meminta no ponsel mu ,bila dia menghubungi kamu, cobalah respon dengan baik " Sofie hanya menganggup tanda mengerti

Setelah Sofi mencurahkan semuanya kepada Dela, sahabat terbaiknya, tentang kegundahan, dan kebingbanganya, lewat telvon ahirnya perasaan Sofi sedikit membaik berkat saran dan keyakinan dari sahabatnya,

~~

 3 hari berlalu semenjak Ali datang kerumah Sofi,  Sofi terus memperhatikan ponselnya,namun ada yang aneh! Ali masih saja tidak menghubungi Sofi, padahal Ibunya memberi no ponsel Sofi, Sofi sempat berpikir 'apa mungkin no yang Ibu kash salah' sudah lama Sofi tidak melakukan hal ini, menunggu seseorang untuk menghubunginya.

Sofi sempat berpikir negatif ' apa mungkin dia, hanya  main main dengan semua ini,kalau memang iya ini sangat tidak lucu ' perasaan Sofi semakin, tidak karuan, banyak sekali pertanyaan yang harus Sofi lontarkan, kepada Ali,karena di pertemuan 3 hari yang lalu Sofi terlalu banyak diam bahkan menatap wajah Ali pun tidak mau ,Sofi terlalu syok waktu itu, 'kenapa dia langsung datang kepada ayah?' Sepengetahuan Sofi ahir ahir ini, dia tidak dekat dengan lelaki manapun, dan  nama 'Ali devano' itu sangat asing buat Sofi , 

Sekarang tidak ada rasa nyaman lagi di kehidupan Sofi , Sofi terhanyut dalam pikiranya, mungkin Ibunya benar, sudah saatnya Sofi berpikir banyak soal hidupnya, karena Sofi hanya berpikir, soal kenyamanan yang di rasakanya. Nada dering ponsel berirama, di sekeliling ruangan kamar Sofi, segera Sofi menyambar benda itu, tidak ada nama yang tertera di layar Hpnya yang ada hanya no baru ,

" Halo, " 
" Halo, " jawab lelaki di sebrang sana ,dengan nada yang sedikit lembut ,
" Apa ini Sofi? " tanya lelaki itu lagi,
" Iyah saya sendiri, " jawab Sofi dengan manis
" Sendirian aja boleh aku temenin.." Sontak Sofi yang tadinya, berusaha ramah menjadi sebal, Sofi tidak suka gombalan , mungkin ini bukan seperti gomblan, tapi bagi Sofi pertanyaan seperti ini sangat risih dia dengar, 
" Heh !!  ini siapa ?? " tanya Sofi judes,
" Haha Sofi ini aku Ali Devano," deg hati Sofi yang tadinya memanas, merasa di gombalin, seketika berubah menjadi lemas 'ini Ali , Ali yang mengajak ku untuk menikah , dan dia,yang merusak Zona nyaman ku ' Sofi berusaha rileks .
" Hai .. " Entah itu sapaan seperti apa, yang jelas sekarng Sofi harus mempertimbangkan semuanya ,
" Hai.. Apa kamu baik baik aja, " bila ingin jujur Sofi ingin sekali meneriakinya, bahwa dia banyak pikiran, dan itu tidak baik baik saja tentunya ,
" Iyah aku baik baik aja " Sofi berusaha untuk tidak keceplosan ,
" Ya sudah aku tutup  yah sampai nanti "
Tuut tuut
Sofi ternganga tidak percaya, percakapan pertamanya dengan Ali , membuat Sofi sebal , ' sesingkat itu kah wah wah '

~~

Hari hari semakin berlalu, Sofi tidak tahan dengan sikap Ali yang cuek , menghubunginya ckup menanyakn 'apa kah Sofi baik baik saja ' Ali tidak pernah menanyakan, apakah Sofi menerina lamaranya? atau yang lainya, layak seorang lelaki yang memberi perhatian kepada calon istrinya '  perasaan Sofi semakin acak kadul, dia merasa di permainkan dengan semuanya,

Siang yang panas ini, Sofi berniat untuk menemui Dela, dia ingin  mencurahkan semua unek unek dalam hatinya kepada Dela membagikan semua keluh kesah yang di rasakan kepada sahabatnya. 
Jalanan Bojong Koneng sedikit macet, karena banyak mobil peribadi yang lewat jalan ini, mungkin karena di Bojong Koneng banyak tempat wisata, seperti Curug Bidadari dan yg lainya,sehingga hampir tiap hari Wekeend jalanan ini macet , dengan rasa sabar ahirnya Sofi bisa melewati kemacetan jalan itu

" Bi Delanya ada ? " tanya Sofi kepada Bi Karsih Ibunya Dela,
" Ada dia kewarung depan, Bibi suruh dia, beli sabun, sebentar lagi pulang ko , duduk aja dlu" jawab Bi Karsih ,
" Eh Sofi... " Kata Bi Cacoh penjual seblak rumahnya berjarak beberapa senti saja, dari rumah Dela lebih tepatnya bersebelahan , Sofi hanya menjawab dengan senyuman, karena Sofi tau, setiap Sofi main ke rumh Dela, Bi Cacoh sering ngomong ngelantur , lebih jelasnya suka menyindir sttus jomlonya, kali ini Sofi tidak ingin mendengar omongan Bi Cacoh, karena mood nya tidak baik
" Sofi tau gak ? si Bety anaknya Mang Tatang mau nikah , di undang gak ? " celetuk Bi Cacoh tangannya sibuk membuat seblak ,namun dia sempatkan berbicara untuk menyerang Sofi , sebenarnya Sofi males untuk menjawab pertanyaan Bi Cacoh, karena permasalahanya dengan Ali, sampai dia banyak pikiran ,namun dia tidak ingin terlihat  mumet ,
" Gak tau, " jawab Sofi malas,
" Ooh kirain Bibi kamu tau ,bukanya s bety teman sekolah SMP mu?  Bety mau nikah , Sofi kapan nikah? jangan kelamaan jomlo nanti nikahnya keburu tua," serangan pertama dari Bi Cacoh, 
" Jomlo juga yang penting seneng Bi, "
Sofi berharap Dela segera datng untuk menyelamtkan dirinya , sebelum Bi Cacoh menyerangnya terlalu jauh
" Yang seneng itu nikah, terus punya anak, kapan nikah hayoo?, " serangan kedua ingin rasanya Sofi menelan Bi Cacoh bulat bulat , sejujurnya perkataan itu, sudah berapa kali masuk ke telinga Sofi , Sofi menjuluki perktaanya itu sebagai kata kata yang paling horor ,karena sama sekali tidak ada jawaban untuk pertanyaan  ' kapan nikah ' terkadang Sofi ingin sekali pindah ke London, untuk menghindari pertanyaan itu, karena menurut Sofi pertanyaan itu sering di ucapkan, oleh orang orang indonesia saja. 
Namun, kali ini sopi seolah mendapatkan jawaban, dari pertanyaan itu saat nama Ali Devano muncul di pikiranya .
" Bentar lagi bi tunggu aja, "
" Waah bukanya kamu jomlo Fi ? " serangan yang kesekian kalinya , Sofi tau Bi Cacoh hanya becanda tapi tetap saja dia merasa risih , nama Ali devano terus meyakinkan untuk menjawan pertanyaan Bi Cacoh kali ini, " Lah kata siapa Bi ? " jawan Sofi enteng,           " Kata Bibi barusan hehe , ya udah ini seblaknya sudah jadi," kata Bi Cacoh sambil menyodorkan semangkuk seblak,
"Laah siapa yang pesen Bi ? "
" Loh tadi bukanya bilang seblaknya satu gak pake sawi," Sofi mash heran dia sama sekali tidak memesan seblak,
" Udah Fi ambil aja nanti gue yang bayar " saut Dela yang entah sejak kapan berada di dekat pintu,
" Lama amat sih Del , warung deket juga, lu ngesot apa jalan sh? " kata Sofi sedikit jengkel, karena membuatnya menunggu sedikit lama dan ahirnya dia di serang Bi Cacoh , 

" Gue jalan sambil ngesot... Haha ya udh masuk yu  disini panas, " Sofi mengekori Dela

" Jadi gimana Fi hubungan elu sama Ali ? " tanya Dela

" Gue bingung Del, sikapnya aneh, cuek dia sperti tidak peduli... Tapi ada yang aneh sama sikap gue ? "
" Apa tuh ? "
" Selama seminggu ini, gue merasa....Sepenuhnya menerima dia, tapi....Gue kesel dengan sikapnya, yang cuek  seolah minta di perjuangin , kan harusnya gue yang di perjuangin sebagi wanita,"

" Berjuang sama sama lebih baik Fi,dari pada berjuang sebelah pihak doang , coba deh sekarang lu hubungi dia, "
" Gak deh nunggu dia aja duluan, "
" Yaah itu namanya berjuang sebelah pihak, "
" Gue takut Del.. Takut dia  becanda, takut cuma mau mempermainkan gue , makanya gue antusias buat menghubungi dia duluan ,"
" Kalau dia niat main main, kenapa juga dia datang ke Ayah lu Fi, "
" Entahlah kalau memang benar dia  becanda ,main main dengan semuanya, dia hrus tanggung jawab gara gara dia Zona nyaman gue hancur , gue jadi banyak pikiran kesana kemari , lu tau sendirikan Del pernikahan itu buka hal yang harus di becandain, makanya harus di pikir matang matang," 

~~
Hari hari berikutnya sikap Ali mash sama,
" Ya sudah kalau kamu baik baik saja , aku tutup yah telponya " tuut tuut
Namun ada yang aneh dengan hati Sofi, seiring berjalanya waktu, hati Sofi semakin terbuka, untuk mempersilahkan Ali masuk , setelah sekian lama Sofi menutupnya, dan menjaganya selama satu taun 

~~

3 minggu kemudian, Sofi semakin gregret, dengan sikap Ali yang tidak berubah dari awal,
rasa ego yng di miliki Sofi cukup tinggi, Sofi tidak mau menghubungi Ali duluan , entahlah Sofi rasa, itu terlalu murahan, kalaupun perasanya sudah menerima keberadaan Ali.

~~

Hari ini rasa penasaranya semakin besar, banyak sekali pertanyaan pertanyaan yang harus Ali jawab, ahirnya Sofi menghubungi Ali sekuat tenaga dia melawan ego, Sofi tidak bisa berlama lama menunggu ,sebelum perasaannya bermain dengan Ali terlalu jauh , selama 3 minggu ini Ali tidak lagi datang ke rumah Sofi, bahkan Ayahnya pun tidak lagi menanyakan hubungan Sofi dengan Ali , Sofi pikir ayahnya kerja sama dengan Ali, lalu mereka bertemu diam diam , untuk apa?

Sofi mengetik nama ' Ali ' di kontak ponselnya
lalu menghubungi no kontak itu,
" Halo,"
" Iyah, " jawab Ali di sebrang sana
" Bisa ketemu sekarng? di Ritzek'y Sentul Nirwana,"
" Hmm tentu saja, " tututut
sikap cuek Ali masih sama, Sofi membuletkan pikiranya dari skarng, antara mengahirinya atau mempertahankanya.

Sore ini pukul 15.00 Sofi duduk menghadap Ali, ini pertama kalinya Sofi melihat Ali dengan jelas setelah pertemuan pertamanya terahir kali,
wajah yang bersih ,hidung mancung, bibir tipis mata bulat hitam, di hiasi alis yang tebal,dan  Ali memakai seragam Guru yang khas  dan name tag di kantung baju kananya ' Ali Devano' Sofi terlihat seperti mau belajar les frivat ' sial kenapa dia sangat gagah memakai seragam itu  ' batin sofi , Sofi mash terpana dengan pemandangan itu
setelah jeda beberapa menit
" Jadi ada perlu apa kita ketemu di sini ? " tanya Ali ahirnya memecahkan keheningan di antara mereka berdua,
"T t tidak ada....Ah maskudnya banyak hal yang harus aku omongin, " Sofi sedikit grogi 'sialan ada apa dengan sikap gue ' Sofi menyalahkan sipat groginya,
" Jadi sebnarnya,kamu serius gak sh dengan hubungan ini ? " satu pertanyaan ahirnya di lontarkan, masih banyak pertanyaan yang mengantri untuk di ucapkan di atas kelapa Sofi ,
" Hubungan ? maksudmu hubungan yang mana?" Jawabnya yang sangat menyebalkan buat Sofi ' yah jelas hubungan kita memang ada berapa hubungan di anatar kita ' batin Sofi kesekoan kalinya
" Iyah maksudku hubungan kita, bukanya 3 minggu yang lalu, kamu datang kerumah dan... Ah begitulah , dan aku rasa seperti di permainkan oleh sikap mu yang cuek itu, "
Ali menatap Sofi lekat lekat ' sial sial ada apa  dengan jantung gue ? kenapa gak karuan begini! ya ampun, ok rileks ini bukan pertama kalinya gue di tatap oleh cowo ganteng ' batin Sofi 
" Jadii ? " 
" Jadi apa ? " ujar Sofi tidak mengerti,
" Hmm , aku mau bertanya sesuatu pada mu ? " Ali mendekatkan jaraknya , 
Sofi menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, takut dia salah dengar,
" Hmmm....mau kah kau menikah dengan ku?" Ucapnya sambil menatap Sofi tanpa berkedip, mungkin Ali bisa tau kalau Sofi lagi shok dan kaget , hening 1 detik 2 detik sampe 10 detik Sofi tidak menjawab seolah dia sambar petir yang kesekian kalinya , wajah Sofi tiba tiba memerah, seperti bunga mawar yang baru saja mekar, dia masih mematung tidak percaya dengan pertanyaan Ali barusan 'ohshit dia melamar gue '
" Sejujurnya aku sudah mengenal mu setaun yang lalu, semenjak pertemuan di mall BTM oh,  bukan pertemuan itu hanya sekilas, tapi memiliki arti yang dalam,  dan pada saat itu aku selalu memperhatikan mu,dari jauh,  mencari informasi kepada orang yang mengenalmu, salah satu dari mereka memberi ku alamat sosial media mu , tapi aku enggan untuk menyapa, lewat pesan Facebook atau IG, aku malu , semakin aku memperhatikan mu, rasa suka ini semakin menjadi jadi, tapi aku tidak berani untuk menyapa ,  setiap hari aku berdoa kepada Tuhan,meminta untuk bertemu dengan kamu, namun aku tidak kunjung bertemu,lalu aku berdoa lagi bahwa aku ingin menikahinya sesuai ijin Tuhan , dan pada ahirnya, ada dorongan yang sangat kuat untuk menemui Ayah mu , setelah itu dalam hati ku ada keraguan apakah kamu menerima atau tidak , aku sengaja cuek karena aku takut menyakiti mu, karena  dari awal aku menghubungi mu ,kamu langsung marah, semenjak saat itu aku berhati hati takut salah ucap, menghubungi mu buat ku cukup menanykan kabar saja sudah lebih baik , dan aku terus berdoa kepada Tuhan untuk bisa memiliki kamu seutuhnya , jangn tanya kenapa aku mencintaimu ? bukankah mencintai seseorang tidak butuh alasan. " ahinya Sofi mendapat jawaban dari ribuan , pertanyaan yang menghantuinya selama ini, Sofi ingat setaun yang lalu , di Mall BTM dia putus dengan Dimas , lalu Sofi menangis, ada seorang lelaki yang memberinya tissu , waktu itu Sofi tidak melihat wajah lelaki yang memberi dia tisu dia terlalu hanyut dalam kesedihan  , hari ini Sofi berasa di bawa terbang tinggi oleh Ali,kupu kupu dalam perutnya berterbangan kesana kemari ada rasa haru yang Sofi rasakan, betapa dia sangat berarti buat Ali , 'mungkinkah ini jawaban atas apa yang aku lakukan selama setaun ini , menjaga hati ku untuk tetap utuh  , Zona nyaman yang sering ku sebut sebutkan, tanpa ada orang yang di perbolehkan untuk mengetuk hatiku setelah sekian banyak lelaki yang mengecewakan aku , ternyata sudah ada orang yang spesial yang siap untuk mengisinya ya dia Ali ' sopi terharu mata nya berkaca kaca stelah mendengar penjelasan Ali, yang panjang lebar menceritakan semua tentang dirinya , betapa Sofi sangat berarti di kehidupannya, sampai menunggunya selama satu taun, Sofi terharu ini pertama kali dalam hidupnya merasa di perjuangkan oleh seorang lelaki setelah Ayahnya ,Sofi tidak sanggup lagi menahan bendungan air matanya, ahirnya Sofi menangis haru, 
" Maapkan aku karena tidak menyadarinya, "
Ali mengusap air mata Sofi,merasa bersalah karena telah membuatnya menangis,
" Tidak apa apa , justru aku yang harus minta maap, karena telah lancang datang ke orang tua mu dan kamu di buat bingung dengan semua ini," Ali membiarkan Sofi untuk menangis , Ali sangat mengerti mungkin Sofi masih shok dan kaget, jadi Ali memberi waktu untuk Sofi menenangkan dirinya ,
5 menit kemudian
Sofi menatap Ali lekat lekat,
" Apakah aku bermimpi ? " tanya Sofi
" hmmm tidak," sopi mencubit pipinya untuk memastikan kalau ini bukan lah mimpi 
" Ini nyata... Ini nyata "
Sofi kembali menatap Ali yang kesekiankalinya, sorotan matanya kali ini bukan di penuhi rasa penasaran dan ratusan pertanyaan, tapi sorotan mata Sofi kali ini berbeda , 
" Will you marry me ? " ucap Ali 
Sofi menjeda bebeapa detik untuk mebiarkan kupu kupu dalam perutnya untuk terbang tinggi , " Yes i will " 

1 komentar:

  1. F*a*n*s*B*E*T*I*N*G Game Bola Online| 5*E*E*8*0*A*F*E :)

    BalasHapus