Sabtu, 14 April 2018

Yang Tak Usai

Matahari sudah cukup orange untuk ukuran sore ini. Pikiran Anandita Pratiwi sedang kalut. Gadis yang akrab di sapa Tiwi ini, ingin ke tempat yang setidaknya membuatnya merasa lebih baik sebelum memutuskan untuk pulang kerumah. Tiwi masuk ke dalam kafe di seberang jalan, duduk di bagian pojok kafe sembari mengamati Zaki yang pergi dengan motornya. Setelah perdebatan yang cukup panjang, Tiwi memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Zaki. Dia terlalu lelah dengan semua tuntutan yang Zaki berikan. Zaki terlalu berlebihan. Pikirnya.

"Hot cokelat," suara berat membangunkan lamunan Tiwi.

Tiwi menoreh dan mengamati seseorang yang meletakan gelas khas kafe yang diisi dengan hot cokelat.

"Boleh duduk disini?" Seseorang itu kembali berucap sembari menunjuk kursi di depan Tiwi. Tiwi hanya mengangguk mengiyakan.

"Hot cokelat bisa bikin tenang." Tiwi semakin kebingungan melihat tingkah aneh lelaki di depannya ini.

"Maaf ini bukan pesanan saya," Tiwi menggeser gelas hot cokelat ke arah lelaki didepannya.

Lelaki itu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan menggeser lagi gelas itu ke arah Tiwi. Tiwi semakin kebingungan, "Tapi itu pesanan saya, buat kamu."

"Kakak siapa ya?" Tiwi bertanya dengan suara pelan.

"Saya orang asing, kita gak perlu kenalan," lelaki itu menyeruput gelas berisi matcha yang dia bawa.

"Kamu kelihatan banyak masalah. Ceritakan." Lelaki itu menebak.

Tiwi sedikit kebingungan saat lelaki itu menebak, merasa tebakan lelaki itu benar, "Mmmm, gak terlalu banyak. cuma masalah kecil," Tiwi mengembungkan pipi.

"Aku tau, kamu butuh teman buat cerita," lelaki itu menyeruput lagi matcha miliknya dan melanjutkan ucapannya, "kadang, bercerita dengan orang asing itu mengasyikan," lelaki itu tersenyum manis ke arah Tiwi. Tiwi hanya melongo mendengar penuturan lelaki itu.

"Gimana kalo kita saling cerita? Ngeluarin unek-unek masing-masing tapi gak perlu tanya nama. Aku bakal ajak kamu ke suatu tempat, kalo kamu gak suka sama tempatnya, kita gak perlu ketemu lagi," lelaki itu menyodorkan tangannya ke arah Tiwi sebagai tanda deal.
Tiwi sedikit berpikir, mengapa ada orang seaneh ini di dunia? Memberikan hot cokelat, menebak, dan menawarkan diri untuk mendengarkan ceritanya di saat pertama kali bertemu.

    Entah mendapatkan dorongan darimana, Tiwi menyalami uluran tangan lelaki itu tanda deal. Beberapa menit kemudian keduanya keluar dari kaffe. Lelaki itu membawa Tiwi kesebuah tempat dengan motor besarnya. Tiwi merasa aneh pada dirinya sendiri. Dia tidak pernah merasa seaman ini, terlebih lelaki yang sekarang membawanya adalah lelaki yang belum dia kenal. Ah Tiwi tidak berpikir negative tentang lelaki ini, toh kalau tempatnya tidak Tiwi sukai mereka tidak akan bertemu lagi. Pikir Tiwi.
    Setelah belasan menit berada di jalanan Tiwi dan lelaki aneh itu sampai disebuah bukit yang ditumbuhi ilalang liar. Bunga-bunga dandelionpun turut mengindahkan pemandangan bukit ini.

"Ini tempatnya," lelaki itu membuka helmnya dan memarkirkan motor besarnya di bawah pohon.Tiwi turun dari motor, dan mengedarkan pandangan.

Semilir angin yang menerpa-nerpa rambut Tiwi membuat lelaki itu berdecak kagum melihat cantiknya Tiwi. Tiwi tidak banyak bicara, dia masih mengedarkan pandangannya dan sialnya Tiwi menyukai tempat ini. Udaranya, pemandangannya, dan senjanya terlihat lebih hidup. Sempurna. Lirih Tiwi.

"Kamu suka," lelaki itu berdiri dibelakang Tiwi, "kita bakal ketemu lagi." Suara tawa mengiringi ucapannya.

Tiwi hanya tersenyum, menatap lelaki yang sedang mengeluarkan kamera dari dalam tas yang ia pakai. Lelaki itu terlihat sudah ahli memegang kamera. Memotret ke segala arah.

"Kamu photographer ya?" Tiwi menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.

"Iya," ucap lelaki itu tanpa mengalihkan pandangan. "kita mulai cerita yaa." Lelaki itu menuntun Tiwi untuk duduk disekitaran ilalang. Menikmati senja yang mulai menjingga.

"Jadi gimana? kamu punya masalah apa?" Lelaki itu meletakan kamera didepannya.

Tiwi menatap lurus, merasakan sesak yang ada di dadanya karena kejadian beberapa jam yang lalu.

"Cuma kesalahpahaman biasa Ka," Tiwi menghembuskan nafas lembut. "aku pengen fokus buat belajar, tapi Zaki gak pernah ngerti. Dia bilang aku gak mentingin dia sebagai pacar. Dan aku milih buat ninggalin dia." Tiwi terseyum miring.

"Kamu hebat," lelaki itu menyahuti.

"Hebat?" Ulang Tiwi.

"Iya kamu hebat. Disaat anak-anak lain berlarut-larut dalam percintaan, kamu malah acuh," lelaki itu menjelaskan panjang lebar. Merasa kagum dengan prinsip gadis disampingnya ini.

"Entahlah Kak, mungkin karena aku gak pernah ngerasain jatuh cinta yang sejatuh-jatuhnya, selalu berawal dari kasihan dan berakhir gitu aja." Sahut Tiwi.
      Tiwi hanya tersenyum mengingat kejadian bodoh saat dirinya terpaksa menerima cinta Zaki satu tahun lalu. Dengan alasan kasihan. Itu semata-mata hanya untuk menghargai. Tapi meskipun begitu, Tiwi tidak pernah sama sekali berniat untuk mengacuhkan Zaki. Dia memang selalu bersikap biasa saja kepada semua orang. Kecuali pada orang tuanya dan orang aneh ini.

"Ha ha ha, lucu kamu." Tawa lelaki itu membuat Tiwi kebingungan. Lelaki itu benar-benar aneh. Menertawakan apa?

"Apanya yang lucu Kak?" Tiwi bertanya.

"Kamu lucu," lelaki itu masih tertawa.

Tiwi hanya merilik sebentar, merasa tertular dengan tawa lelaki disampingnya. Tiwi ikut tertawa melambungkan beban yang dia tanggung sendiri.

"Tau filosofi ilalang?" Lelaki itu meredakan tawanya.

"Enggak, emang apa?" Sahut Tiwi.

"Aku gak tau, makanya nanya kamu, ha ha ha," lelaki itu kembali tertawa.

"Ih dasar, receh banget," Tiwi memanyunkan bibirnya ke depan tanda tak suka. Lalu menyenggol lengan lelaki disampingnya dan tertawa.

"Kalo seandainya nanti kamu nemuin hati yang bisa bikin kamu ngerasa jatuh cinta sejatuh-jatuhnya, kamu bakal berani ninggalin buku-buku itu?" Lelaki itu kembali berucap.

"Gak ada yang bakal bisa bikin aku jatuh cinta melebihi cinta aku ke buku,"jawab Tiwi.

"Kalo ternyata ada?" Lelaki itu menatap Tiwi dalam.

Aneh. Lelaki ini merasa gadis di sampingnya akan membuat keributan dalam batinnya. Rasa yang menghampiri batinnya saat melihat kekacauan yang terlihat jelas diwajah gadis ini saat di kafe, sulit untuk dijelaskan. Rasanya ingin membuat gadis ini tenang.
    Gadis itu tidak cepat menjawab. Tatapannya lurus menatap dandelion yang sedang bergerak-gerak akibat angin. Lelaki itu menatap sebagian wajah Tiwi dengan tajam. Melihat setiap inci wajah cantik Tiwi. Entah perasaan apa yang sedang memburu dihati lelaki itu. Rasa nyaman lebih mendominasi.

"Sejak kapan suka senja?" Tiwi mengalihkan ucapan lelaki itu.
Merasa aneh membahas perihal perasaan. Karena diapun tidak pernah memikirkan akan ada seseorang yang membuatnya jatuh cinta melebihi kecintaannya pada buku.

"Sejak-"  lelaki itu sedikit berpikir, "lama."

"Ih labil, gak yakin gitu jawabnya," Tiwi memanjukan bibir bawahnya.

"Beneran. Yang pasti udah lama banget," lelaki itu ikut tertawa dan menunjuk pohon yang berdiri di sampingnya, " kira-kira, lamanya hampir seumuranlah sama pohon itu."

Tawa keduanya kembali meledak begitu saja. Tidak terlihat seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal.

"Kamu mau tau gak? rahasia aku?" Lelaki itu menghentikan tawanya, "aku mulai jatuh cinta sama gadis yang bahkan aku gak tau nama dia siapa," lelaki itu meluruskan pandangan. Mengambil kamera yang di pegangnya, membuka satu file foto yang ia ambil saat pertama kali turun dari motornya. Memperlihatkan gadis di dalam foto dihadapan Tiwi. Tiwi. Gadis di dalam foto itu Tiwi. Lalu hening.
   Senja mulai menghilang bersama malam.  Setelah mengucapkan "see you" kedua orang asing itu berpisah di tempat pertama kali mereka bertemu. Kedua orang itu sama-sama berharap dapat disatukan kembali.
-------
    Beberapa minggu setelahnya, Tiwi sering mendapat kiriman. Entah hanya sebatang coklat, atau setangkai bunga mawar putih. Tidak pernah lupa lelaki itu menyelipkan selembar kertas berisikan tulisan-tulisan tangannya. Beberapa kalimat puisi, atau beberapa baris filosofi untuk memotivasi Tiwi. Sering sekali. Tiwi bahkan sudah kehilangan hitungannya sendiri. Tiwi hanya senyum-senyum sendiri melihat keanehan lelaki itu. Tiwi ingin sekali bertemu dengan lelaki itu lagi. Tapi Tiwi bingung bagaimana cara membalas semua surat dari lelaki itu. Tiwi benar-benar tidak tahu siapa nama lelaki itu. Hati Tiwi sedikit bergetar. Entah kenapa dia merasa lelaki ini telah mencuri sebagian hatinya.
     Sore ini, cuaca sedikit nakal. Gerimis kecil yang membasahi aspal. Sabtu yang sedikit aneh. Pikir Tiwi. Pagi tadi, Tiwi mendapat kiriman lagi. Sedikit berbeda dengan kiriman yang biasanya Tiwi terima. Masih spesial bahkan lebih spesial. Bunga mawar putih, boneka kecil pink, lembaran foto Tiwi saat di bukit dan satu lembar kertas berisikan tulisan tangan lelaki itu.

"Jadilah seperti ribuan ilalang yang tumbuh di atas bukit. Sekencang apapun terpaan angin, selama apapun angin itu menerpa, dia hanya akan meliuk-liuk dan kembali berdiri saat angin berhenti." Tiwi kembali tersenyum membaca tulisan dalam kertas yang dipegangnya.

"Katanya gak tau filosofi ilalang," lirih Tiwi dan tersenyum miring.
  Tiwi merasa lebih baik saat membaca tulisan itu, seperti ada dorongan kuat untuk lebih tegar menjalani kehidupannya. Lelaki itu pernah mengatakan bahwa hidup itu seperti jalan. Kadang dia mulus, berliku, berlubang, dan penuh paku.
     Motivasi-motivasi yang lelaki itu kirim lewat tulisan, berhasil membuat Tiwi merasa dihargai walau secara tidak langsung. Berbeda sekali saat masih bersama Zaki yang selalu menuntut waktu dan cemburu pada buku-buku milik Tiwi. Alasan itulah yang membuatnya jengah dan lelah atas hubungannya dengan Zaki.
    Sore yang sedikit basah itu, membawa Tiwi kedalam kafe. Tempat pertama kali Tiwi dan lelaki itu bertemu. Dia masih memegangi amplop pink yang dia temukan di kotak surat pagi tadi. Di bagian depan amplop itu tertulis bahwa lelaki itu meminta Tiwi datang ke kafe. Dan seperti perjanjian di awal, lelaki itu akan memberi tahu namanya saat pertemuan yang kedua kalinya.

"Ini isinya apa ya," Tiwi membolak-balikan amplop di tangannya.
"Emang kenapa ya kalo aku buka sekarang?" Tiwi kembali bertanya pada dirinya sendiri. Pasalnya Tiwi hanya boleh membuka amplop itu saat cowok itu datang.
    Tiwi sedikit bertanya pada dirinya sendiri, mengapa dia sampai rela datang ke kafe ini hanya untuk memenuhi rasa penasarannya terhadap lelaki aneh itu. Tapi dia tidak menepisnya. Membiarkannya dengan rasa sedikit bahagia. Tiwi mulai jatuh cinta.
   Tiwi teringat saat lelaki itu memperlihatkan foto di dalam kameranya. Yaitu, foto dirinya saat membelakangi kamera. Lelaki itu bilang, dia mulai jatuh cinta pada dirinya. Entahlah, Tiwi juga merasakan hal yang sama. Mungkin ini alasan kenapa Tiwi sampai mau repot-repot datang ke kafe ini.
    Satu jam telah berlalu, orang yang datang ke kafe ini sudah hampir belasan orang. Yang lain duduk, yang lainnya keluar. Tapi Tiwi masih tetap di posisi semula. Di kursi pojok menghadap jendela yang langsung menghadap jalanan. Gerimis masih saja berlangsung, Tiwi sudah mulai gelisah. Sabtu benar-benar mulai menyebalkan. Pikir Tiwi. Tiwi benar-benar muak. Tubuhnya mulai lelah karna sendari tadi hanya duduk.

"Kayanya aku di boongin deh," batin Tiwi.
"Bodoh banget sih aku? mau aja nungguin orang yang gak kenal," Tiwi sedikit mengomeli dirinya sendiri. Merasa terlalu baik percaya pada tulisan-tulisan lelaki itu.
   Tiwi keluar dari kafe. Hanya berdiri di halaman kafe, tepat di depan pintu masuk. Gerimis masih saja turun. Tiwi masih memegangi amplop pink yang di pegang.

"Kamu itu isinya apa sih? bikin penasaran tau gak?" Tiwi mendekatkan amplop pink tepat di depan wajahnya, "buka aja dah yaa."

    Tiwi membuka amplop itu dengan rasa sebal. Dia terlalu bodoh menunggu lelaki aneh itu. Tiwi baru saja berpikir bahwa rasa terhadap lelaki itu mulai tumbuh, walau hanya dalam diam. Tapi setelah kejadian menunggu ini, Tiwi sedikit kecewa.
     Suara decitan ban dan aspal mengagetkan Tiwi. Suara jeritan dari beberapa pejalan kakipun turut membuat Tiwi melebarkan mata. Suara benturan antara dua bendapun terdengar jelas. Kejadian itu terjadi begitu cepat. Orang-orang mulai berdatangan. Pelayan kafepun ikut keluar untuk menolong. Tiwi hanya terpaku memegang erat amplop yang baru Tiwi buka setengahnya, menyaksikan seseorang dengan motor besar tersungkur dan tertindih motornya sendiri. Mobil yang datang dari arah berlawanan itupun ringsek dibagian depan. Pengemudi keluar dan ikut megerubungi orang yang ia tabrak barusan. Tiwi hanya menggigit bibir bawahnya, matanya masih melebar. Orang-orang mulai mengerubungi lelaki itu. Tiwi membuka amplopnya dengan cepat. Melihat apa isi amplop itu. Membaca kertas yang ada di dalamnya dengan begitu terburu-buru.

"Hai cantik, bolehkah ku panggil engkau senja? Haha bahkan kamu lebih indah dari senja. Tatapan mu lebih indah darinya. Hei senja, bolehkah ku sama kan engkau dengan dia? Gadis cantik yang ku perkenalkan padamu beberapa minggu lalu. Hei cantik, aku mulai mencintaimu. Aku tahu, bahwa kau juga mulai mencintaiku. With love -BILY."

  Tiwi meremas amplop ditangannya. Berlari menghampiri kerubungan orang-orang. Mencari celah untuk memastikan siapa lelaki yang di sedang orang-orang ini tolong. Tiwi hanya terpaku saat seseorang membuka helm yang di pakai sang pengemudi motor. Menutup mulut dengan tangannya. Lelaki itu terlihat tidak sadarkan diri. Wajah tampannya  bercampur dengan darah yang keluar dari pelipisnya.

"Telpon ambulance," titah seseorang pada pengemudi mobil yang menabrak.

"Bily?" Panggil Tiwi disela isakan tangisnya.


  
















  Hai teman-teman, namaku Mia Rusmia. Aku lahir di Bogor, 30 september 18 tahun yang lalu. Penulis amatir, karena Aku tidak berbakat menulis, menulis adalah hobiku. Aku hobi menulis di buku, ditembok, atau menulis di kaca rumah yang berdebu. Selain hobi menulis, aku juga hobi makan tapi badanku tidak pernah gemuk, anugerah sekali. Bagi yang ingin memberi kritik dan saran, atau untuk yang ingin lebih dekat denganku boleh follow instagramku:miyong532 atau email:miyong532@gmail.com terima kasih.

1 komentar:

  1. F*a*n*s*B*E*T*I*N*G Game Bola Online| 5*E*E*8*0*A*F*E :)

    BalasHapus